Aliran Rasa Tantangan 10 Hari Level 1 Komunikasi Produkti Bunda Sayang

Sebaik-baiknya ilmu ialah yang diamalkan. Berkomunikasi dengan pasangan dan anak memerlukan ilmu sehingga tidak terjadi kesalahpahaman dan salah didik. Kesalahpahaman dengan pasangan bisa diselesaikan baik-baik. Namun jika anak salah didik, artinya kita menciptakan satu generasi yang menyulitkan orang banyak. Dalam games tantangan 10 hari level 1 komunikasi produktif ini saya Read more…

Tantangan Hari 13 GAME Kelas Bunda Sayang Level 1 KOMUNIKASI PRODUKTIF

Tadi pagi saat saya menjemur pakaian, ibrahim datang ke saung di belakang tempat menjemur. Di saung itu pak suami baru saja menyimpan meja dengan alas kaca.

“Ibu, ini apa?”
“Meja kaca. Ibrahim jangan naik ya.” Saya gunakan kata jangan karena ini penuh bahaya sekali kalau ia naik.
“Ku saha?” (Oleh siapa disimpan di sini?)
“Ku bapa kamari. Ibrahim jangan naik ya”
Ia terus memandangi dan memperhatikan meja. Rasa ingin tahu memenuhi pikirannya.

Kuteruskan menjemur pakaian yang artinya harus membelakangi ibrahim. Sekali-kali ku menengok ke belakang. Aman. Sekali lagi, waaaaah sebelah kaki ibrahim sudah di atas meja.

(more…)

Tantangan Hari 8 GAME Kelas Bunda Sayang Level 1 KOMUNIKASI PRODUKTIF

Pagi hari kemarin, ketika saya telah selesai memandikan dan mengenakan baju ke ibrahim. Ku berlutut agar mataku sejajar dengan matanya. Dengan handuk sudah tercantol di leher.

“Im, ibu mau mandi dulu ya.”
“Dede ikuut.”
“Ibrahim kan udah mandi. Ibu pengen ibrahim tunggu ibu mandi ya.
“Hmmm.”
“Ibrahim mau ngapain sambil nunggu mandi? Main puzzle atau nonton TV?”
“Nonton TV!”
Yaaa bolehlah.
“Mau nonton upin ipin atau baby shark?”
“Upin ipin!” Matanya berbinar-binar
“Okee, ibu setelin, ibrahim tunggu ibu mandi yaa”

Setelah mandi dan berpakaian. Kulihat ibrahim masih fokus nonton TV. Tapi dia selalu bertanya kepadaku jika sudah mandi.

(more…)

Tantangan Hari 7 GAME Kelas Bunda Sayang Level 1 KOMUNIKASI PRODUKTIF

Kemarin malam, ibrahim nginep di rumah neneknya. Saya dan suami berencana mengecat rumah. Alhamdulillah kebetulan ibrahim nginep, pekerjaan mengecat jadi bisa kondusif.

Sore harinya ibrahim pulang diantar bibinya. Saya sedang mandi saat itu. Setelah berpakaian, saya lihat muka ibrahim ceria sekali.


“Ibrahim, seneng banget ya? Ngapain aja di rumah amah nin?”
“Dede ga ngapa-ngapain ” sambil kuam keom. (Senyum-senyum)
“Ooh, main hape ga?”
“Engga, ”
“Ooh main youtube ga?”
“Engga”
“Main youtube nya di hp amah atau hp mbi?” Saya tanya ia dengan pilihan.
“Hp amah” sambil tertawa. Ternyata benar.

Hmmmm. Seringkali seperti ini. Saya tarik napas. Meredakan emosi. Saya dan suami memang memberikan screen time kepada ibrahim, tetapi dengan batas. namun hal yang ini jadi masalah, nenek-kakek mana yang tega melihat cucunya menangis? Ya tentunya saat ibrahim ibrahim minya youtube langsung dikasih sama neneknya

“Ibrahim, kan kata ibu, ibrahim ga boleh main hp, ga boleh main youtube kalo lagi di rumah amah.”
“Iya”
“Ibu pernah ya im, kelamaan main hp, kelamaan main youtube, mata ibu sakit”
Entah dia mengerti atau tidak saya beri penjelasan seperti itu.
“Iya”
“Kalo lagi di rumah amah nin, ibrahim bisa main yang lain yaa. Baca buku atau main puzzle”
“Iya bu”

“ibu pengennya sih, ibrahim ga main hp, ga main youtube, nak.”
“Iya”
Saya coba ungkapkan keinginan saya. Semoga dia mengerti.

 

 

(more…)